Semacam Pengantar, 111 Kata Saja

December 12, 2010 § 4 Comments


by Rendra Jakadilaga @therendra

Hari baru, tantangan baru. Kali ini kita akan mengurung diri dalam ruang kreasi yang sempit. Bisakah kita menceritakan kisah hanya dengan menggunakan 111 kata? Beberapa teman telah membuktikan dengan 100 kata. Mengapa 111? Karena itu adalah angka yang cantik!

Sekarang, saatnya mengaduk kepala dan mengeluarkan ide-ide. Tak usah banyak berpikir dulu, langsung menulis saja.

Sekedar mengingatkan saja: di depan adalah dua kata, dibelah adalah satu kata, burung-burung adalah satu kata, dan bolak-balik juga satu kata. Semua angka dihitung satu kata manakala dituliskan dengan angka. Ingat, angka tunggal dituliskan dengan huruf.

Seperti biasa, kita juga akan tetap berdiri pada tema yang sama. Bermain di ranah fiksi atau nonfiksi, terserah. Mulai menulis, sekarang!

 

 

Friend Status Terbaik 6: Akhir Pekan Brutal

December 19, 2010 § Leave a comment


by Rocketeer Ksatriansyah @garibaud

Edisi Akhir Pekan. Biasanya banyak yang teradi di akhir pekan. Lebih banyak daripada yang terjadi di Hari Kerja. Apa hal-hal menarik yang akan diposting teman-teman Rendra kali ini??? I wish it’s not gonna get back to Malaysia or KD thingy… Kehidupan pribadi kita luas man??? So… enjoii!!!

Ardhi Makhruzar badan ku dulu tak begini,kini berat ku tambah lagiii.kulebar, kumelar,tambah sangar.rasa lapar buat ku brutalll.(di nyanyiin pake nada iklan scot emesion).

friend udah salah nyebut merek… banter lagi… iya dhi… emang loe udah sangar kuadrat… ga usah pake ngaku…
Sintya Dewi Ada yg tambah subur nih…

Marwan Er ….apakah keberuntungan bisa di ciptakan???….

friend bukankah Tuhan menciptakan semuanya???
Andrias Pratikto…tanganmu pothelen !…situ menciptakan keberuntungan tangan !!!…
Dwek Nugroho pastikan hak paten-nya, ndak di klaim Malingsia!

Jati Ratmaya Apakah orang sukses itu orang yang kaya?

friend ga sukses jadi org kaya, yang penting sukses jadi orang baik Jat
Azas Budi Prasetya Cobo takon mario teguh, pasti jawabane ora… Padahal mana ada kere disebut orang sukses….
Abu Daud kepuyuh buanget ditengah lapangan yang ramai banyak orang.. cari2 kamar mandi akhirnya ketemu.. dan akhirnya bisa buang air kecil dengan nyaman… itu juga SUKSES!

Yola Rinayanti Johan lagi di busway, sebelah kanan pake BB, depan pake spt BB, eh.. sebelah kiri gw, BB banget, huhu..polusi udara pagi2.

friend suara hati konsumen (yang kaga mampu beli BB tapi kaga tahan BB hehehehe)
Rudy Kims bentar nyimak dulu gan…….., BB yang awal sama BB yang akhir tuh maksudnya beda yah….., lha BB yang di tengah itu mirip sama BB awal apa BB akhir ◄_►
friend @Rudy Kims: perceptive!!!

Amsalt Adya Kusumah ”tidak mengandung babi” beneran!! Hanya kamu seorang,aku tidak pernah berhubungan intim dengan si babi sampai mengandung anaknya.. Hahahaha.. (Terinspirasi dari quotes makanan di carefour ‘tidak mengandung babi’)

friend ami selalu pake kondom kalo berhubungan dengan si babi yah??? habis itu juga langsung diaborsi…
Tessa Sembiring Tapi mengandung ayam kan? Ckckckckck
Amsalt Adya Kusumah @tessa: sumpah aku tidak melakukannya dng si ayam.. Yah kelinci mungkin dikit2lah hahah

Joko Mulyadi benarkah 8 dari 10 anak indonesia lebih memilih internet daripada nasi?

friend coba loe tawarinnya nasi ayam rica-rica sama rolade daging, minumnya es kelapa jeruk selasih dan dessert pudding coklat susu, yakin deh presentasenya berkurang….setidaknya kalo saya dianggap anak indonesia
Joko Mulyadi saykoji…termasuk korbane njenengan tow? xixixi

Nova Prambudi Kata Zainudin Mz di tv one, kemarin: “kalo kyai gak boleh kawin, saya berenti jadi kyai..”. Untung boleh kawin ya pak asal jgn kawin melulu

friend saya juga berhenti jadi santri kalo kyai ga boleh kawin, lhoooo????
Dede Pas bagus…….. ga apa2 banyak istri banyak yg dinafkahi
friend jangan jangan malah dinafkahi istri wkwkwkwk

Amsalt Adya Kusumah sumpah aku ngga gendut,cuma kurang tinggi.. (Lagi inget indi…)

friend aku juga!!! (ngacung sambil jinjit) I wish Indy reads this

Vidia Valva honesty is such a lonely word …

friend sad but true…ga ada temennya

 

Special newcomer unnominable:

Niina Firlyana *adkh riindu d.htii.muuh,..adkh ciindth.qw d.htii.mw… Dpt.kh qw gpaii cndth Mw kmblii…[..nmun pa bla smwa.ny itw tlh kw brii.kn kpd.ny.. Akn kuuh akhrii smua rsa,kuuh k.pda muuh..]

friend ada yang bisa nerjemahin guys… lol. niina, no offense
Rido Alcatraz Wah,tulisanmu jelek nih frend,…pasti g lulus TK ko toh?

Mungkin besok minggu lebih banyak hal yang menarik… kita lihat saja besok… hehe… meanwhile enjoii (again). Pergi ke Bali beli maskara, Nggak dipilih jangan marahh!!!

Me versus MOM episode 3

December 19, 2010 § Leave a comment


by Rocketeer Ksatriansyah @garibaud

Jadi, Mama, sempat membaca beberapa bagian dari naskah Me vs Mom ini, dan memprotes beberapa bagian penceritaan yang menurut dia tidak sesuai dengan kenyataan. Yah, kami masih berdebat tentang ingatan siapa yang lebih bagus, tapi, bicara masalah ingatan, ada cerita lucu tentang bagaimana Mama selalu lupa siapa yang ingin dipanggilnya. Padahal, kami cuma empat bersaudara! Bayangkan: Empat!

Siapa yang dipanggil

Waktu kami beranjak memasuki usia 7, kadang-kadang 6, Mama biasanya menyerahi kami tugas-tugas rumah tangga sederhana seperti membeli bawang, mengantarkan kue ke tetangga, menyapu, mencuci piring, dsb. Yah, Mama memiliki naluri yang sangat tajam dalam menghemat biaya pembantu. Setiap Mama akan menyuruh salah satu dari kami, dia akan memanggil dengan auman Macan.

Mama: JENIALLLL….
Jenial: (tergopoh-gopoh)…
Mama: Eh, salah, maksudnya REZAAA…..
Jenial: (berhenti sebelum memasuki ruangan di mana Mama akan menyuruhnya buang sampah, lalu berbalik ke kamar)
Reza: (tergopoh-gopoh)
Mama: eh, JAKAAAAAAAAAAA….
Reza: (berhenti sebelum memasuki ruangan di mana Mama akan menyuruhnya buang sampah, lalu berbalik ke kamar)
Aku: (menunggu sejenak untuk perubahan nama sekali lagi) (karena Mama diam, maka aku memutuskan untuk beranjak dengan asumsi memang aku yang ingin dipanggilnya)
Mama: QADRIIIIIII….
Aku: (gedubrakan di depan pintu)
Qadri: (tergopoh-gopoh)

Semenjak itu, kami akan diam sejenak untuk menunggu konfirmasi siapa nama yang sebetulnya di panggil. Biasanya sih yang ke empat.

Mama: Oh JAKAAA….. (aku menghela nafas lega, lolos), eh JENIAAAALLL (Jenial menghela nafas lega)…
Reza dan Qadri: (tegang menunggu eliminasi)
Mama: ……… QADRIIIII!!! (Qadri bersorak… berarti Reza yang kena)
Reza: (melangkah gontai)
——————————————————————————————————————-

==Monolog Internal=

Aku, Jenial, dan Qadri: Mudah-mudahan besok alfabetis lagi manggilnya… seenggaknya bukan tugas buang sampah, deh
Mama: Pada ke mana sih nih anak-anak, dikiranya buang sampah itu lebih ngerepotin daripada ngelahirin???
Reza: hhhh (masih melangkah gontai)
——————————————————————————————————————-

Menyanyi di depan kelas (versi cerita Mama)

Mama mengantarku ke sekolah pas pertama naik kelas dua.

Bu guru: siapa yang mau menyanyi…???
Mama: (dengan kode) …angkat tangan… angkat tangan…
Aku: (ANGKAT TANGAN dengan semangat) Saya BU!
Bu guru: silakan namanya siapa?
Aku: eng…. (nengok mama)
Mama: (dengan kode) …aku anak sehat… aku anak sehat…
Aku: AKu ANAK SehAT
Bu guru: bukan lagunya… nama kamu?
Aku: (dengan kode) …Rocketeer Ksatriansyah…
Bu guru: oh Rocketeer… silakan nyanyi…
Aku: aKu anak Sehaat tubuhku kuat… karena Ibuku raJin dan cermat.. semasa aku bayi selalu diberi ASI makanan bergizi dan imunisasi…Berat badAnku ditimbang slalu. PosyanDu menunggu setiap waktu bila aku diare ibu slalu waspada pertolongan ONANI slalu siap sedia…
(sepanjang nyanyi memeragakan liriknya juga)
Bu guru: (dengan kaget) ONANI? Oralit mungkin?
Aku: Uhmm… (nengok mama)
Mama: (ngangguk)
Aku: iya bu… satu lagu lagi bu…
Aku (masa kini): *dubrak* ternyata dari kecil gw….
Aku: (nyanyi Unyil) (sebenernya dari tadi kepalaku miring terus karena ada bisul di leher kanan… tapi cuek aja)
Bu guru: (antisipasi) sudah yah… kasih kesempatan temannya lagi
Ibu-ibu lain: ih anak siapa itu, biar lagi bisul lehernya, berani juga dia nyanyi… sampai dua lagu lagi…
Mama: (siap-siap ngaku)
Ibu-ibu lain: tapi ya ampun suaranya agak agak gimana gitu… nadanya juga lari-lari… mamanya ga ngajarin nyanyi apa yah???
Mama: (ga jadi ngaku dan menahan diri)
————————————————————————————————————

==Monolog Internal==

Me: aduduh… nih bisul!!! angkat tangan lagi ah… lagu happy birthday to you belom
Mama: aduuuuhhh coba udah jaman SMS nih, jaka ku SMS aja suruh pulang sendiri… tahu gini ibu-ibu lain pasti ngelihat aku ngegandeng dia… ketahuan deeehhhh… atau nggak usah kugandeng aja yah, suruh jalan duluan…
————————————————————————————————————

12 Desau Angin: Losing A Whole Year Part.8

December 19, 2010 § 1 Comment


by Rendra Jakadilaga @therendra

Nama saya Rumput. Tidak tahu apa yang ada di benak orang tua saya sewaktu memilih nama itu. Mungkin karena rumput itu adalah pemandangan langka di kota besar macam Jakarta ini. Sedangkan di Irlandia Utara sana, dimana saya lahir, dimana rumput adalah kemanapun mata memandang, rumput itu ibarat surga dunia buat papa dan mama yang adalah orang Indonesia. Mengharapkan saya bisa jadi surga buat mereka, jadilah nama saya Rumput.

Tepat di umur 5 tahun kami sekeluarga kembali ke Jakarta. Saya sudah punya adik, Lunar, yang waktu itu usianya baru 1 tahun. Benar seperti prediksi orang tua saya, sayapun tumbuh sebagai surga buat orang-orang di sekitar saya. Beruntung saya diberikan orang tua dengan kecukupan materi, jadi saya bisa bersekolah di sekolah favorit. Bukan di sekolah ala kadarnya dengan atap bolong-bolong dan jendela yang setengah berkaca setengah tidak. Hampir keseluruhan hidup saya serba indah. Meski layaknya semua yang ada dunia kehidupan saya pun ada cacat sana sini, tetapi secara keseleruhan bisa dibilang persis dongeng tentang surga.

Sampai pada hari itu. Hari dimana saya ketemu sosok bernama Angin. Ramah, mudah bergaul, apa adanya kalau bicara, itulah Angin. Seperti namanya, lelaki berbadan cukup atletis ini selalu memberi kesegaran. Bosan dengan keadaan hidup yang serba teratur – atau bahkan diatur – saya menemukan sosok kebebasan dalam diri Angin. Bosan dengan segala kemudahan yang ada di rumah, saya belajar mengerti arti kata ‘berusaha’ dengan Angin. Semakin jauh mengenal Angin, semakin saya tertantang untuk mengenalnya lebih jauh. Segala perbedaan antara saya dan Angin bukannya menjauhkan malah menguatkan hubungan kami berdua. Saya yang selalu tertata rapi kagum dengan keleluasaan Angin dalam bertindak. Saya yang terlatih dengan keteraturan seakan menemukan kebebasan dalam tiap keteledoran Angin.

Saya yang datang dari keluarga dengan berjuta rencana iri dengan kesiapan Angin menghadari setiap hari barunya. Sifat-sifat Angin yang sangat berlawanan dengan apa yang sudah ditanamkan dalam benak saya semakin mengakrabkan kami. Akrab berganti kagum, dan kagum berkembang menjadi cinta dan sayang. Kami saling melengkapi. Saya merasa lengkap bersama Angin. Saya inginkan kehidupan seperti Angin. Saya inginkan kehidupan DENGAN Angin.

Tidak terlalu sulit harusnya menggapai semua mimpi saya itu, karena entah bagaimana datangnya mujizat itu, Angin pun menaruh rasa pada saya. Kata-kata cinta dan sayang dikatakan tidak hanya dengan mulutnya, tapi juga dengan mata dan hatinya. Ah, sungguh merupakan surga buat saya memiliki Angin dalam hidup saya.

Memang, tidaklah sulit. Andai saja, papa bukannya orang yang anti orang miskin. Papa sangat menentang hubungan saya dan Angin. Menurut papa, kehidupan Angin tidak jelas. Saya akan tertiup ke arah yang tidak bisa diprediksi. Perselisihan demi perselisihan, perdebatan demi perdebatan, kemarahan demi kemarahan, semakin memperuncing keadaan. Saya dan papa tidak lagi bisa berkompromi. Saya yang memang pada dasarnya seringkali mengalah pada keegoisan papa, kali itu tidak dapat mentolerir nya lagi. Saya yang biasanya hanya diam karena tidak menginginkan keributan, pun akhirnya menyerah. Saya mengira bahwa dalam keluarga saya menemukan surga. Tapi nyatanya entah neraka atau apa itu namanya.

Singkat cerita, pertengkaran-pertengkaran saya dengan papa membuat saya keluar dari rumah. Mama yang saya harapkan mampu menahan kemarahan papa, bahkan tidak berusaha untuk menahan kepergian saya. Hanya Lunar yang berusaha keras menahan tangis – dan juga dalam hatinya berusaha menahan saya. Saya sungguh kecewa. Saya pergi. Saya ingin membuktikan pada papa dan mama bahwa saya pun mampu hidup dengan cara saya. Semua pandangan dan kepercayaan saya pada hidup tidak boleh direnggut. Sayapun ikut Angin. Sampai sekarang. Ya, saya tahu, macam di sinetron-sinetron saja alur hidup saya. Meskipun setuju, tapi saya tidak terlalu peduli juga. Toh sekarang saya tidak tahu kehidupan sinetron itu seperti apa. Kami tak pernah lagi menonton tivi, karena kami tak lagi punya tivi. Sudah dijual sewaktu kami perlu dana untuk ongkos berobat Angin yang divonis kena gejala tipus. Kini satu-satunya benda mewah di rumah petak ini adalah laptop butut yang dulu sempat saya beli dengan uang honor menulis yang saya kumpulkan selama dua tahun, ditambah uang hadiah ulang tahun dari teman-teman. Laptop tua inilah teman curhat saya hingga sekarang. Selain Angin, saya rasa laptop inilah benda yang paling mengenal saya dan segalanya yang bergumulan dalam otak dan hati saya.

Hidup dengan Angin adalah keputusan terbesar yang pernah saya ambil di sepanjang hidup saya. Entah apa yang waktu itu ada dalam pikiran. Saya bahkan tidak pikirkan bagaimana kami berdua akan hidup. Maksud saya, baik saya maupun Angin sama-sama tidak punya pekerjaan dengan penghasilan tetap. Saya memang dulu terkaang suka mengirimkan artikel ke majalah Citra. Tapi tidak rutin. Dan juga, berapa sih uang yang bisa saya harapkan? Betul-betul tidak bisa diandalkan.

Angin? Apalagi. Dia memang kerja paruh waktu sebagai pengantar surat di suatu perusahaan minyak. Tapi buat biaya kuliah saja sudah pas-pasan. Saya pikir saya sudah sangat beruntung bahwa cinta Angin sedemikian besar untuk mau menampung saya yang memang tidak memiliki tempat pelarian yang lain. Ya, saya cinta Angin. Dan hal yang paling saya syukuri dalam hidup saya adalah bahwa Angin pun cinta saya.

Hidup berdua dengan Angin, seperti yang sudah pernah saya duga sebelumnya, tidak mudah. Kami pernah bermimpi untuk segera menikah, punya anak, hidup nyaman. Seperti orang-orang lain. Saya rindu punya surga lagi. Tapi apa daya, Kalau buat sehari-hari saja kami mengais-ngais, bagaimana mau punya anak?

Tulis menulis tetap saya jalankan. Di awal kehidupan berdua kami, memang cuma itu saja pelarian saya atas kesusahan-kesusahan yang ada. Kalau sudah di depan laptop dan mulai menata susunan huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, dunia yang saya tulis seakan mengganti dunia saya dengan Angin. Sampai suatu hari saya pikir saya harus membantu Angin mencari tambahan uang. Untuk belanja lauk pauk dan sayuran padanan ikan asin kesukaan Angin. Saat mengobrol dengan Bu Indri, tetangga sebelah, tercetus ide brilian. Saya bisa jadi tukang cuci. Kata Bu Indri, rumah-rumah di kompleks depan suka memberikan kerja cuci buatnya. Dan Bu Indri menanyakan apakah saya bersedia membantu. Jadi, itulah kerja saya sampai sekarang. Papa bisa jungkir balik karena marah dan malu kalau sampai tahu. Tapi seratus ribu sebulan sebagai tambahan tidak mungkin bisa saya tolak. Tidak akan pernah Angin mendengar saya mengeluh kelelahan karena pekerjaan yang tidak pernah sedikitpun terlintas dalam mimpi saya dahulu. Pun tidak pernah Angin melihat saya menangis saat melihat bagaimana kuku-kuku saya rusak dan kulit tangan saya mulai terkelupas karena frekuensi penggunaan sabun cuci yang lumayan tinggi.

Jangan pikir bahwa kemiskinan dan kesusahan-kesusahan bisa menghapus mimpi-mimpi saya. Tidak akan pernah. Banyak hal yang harus saya lalui yang tidak pernah menjadi bagian dari mimpi-mimpi saya, tetapi saya masih tetap teguh dengan mimpi yang sama. Saya bermimpi suatu hari nanti bisa menjadi seorang penulis terkenal. Menulis adalah hobi saya sejak lama. Dan saya sempat merasa yakin bahwa saya bisa menulis dengan baik. Saya pernah yakin bahwa saya adalah penulis yang patut dipertimbangkan. Saya sempat yakin bahwa akan banyak penerbit yang berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan dan mempublikasikan karya-karya saya.

Ternyata memang mimpi saya bisa jadi kenyataan. Semua usaha dan tunggu saya sudah membuahkan hasil. Seperti mau pingsan rasanya waktu melihat novel saya sudah terpajang di toko buku Angkasa minggu lalu. Sesaat memang sempat terlintas hal-hal buruk dalam pikiran. Untung Angin cepat menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Ah, Angin… hebat sekali kamu menyimpan rahasia. Menjadikan ini semua sebagai sebuah kejutan. Saya yang agak mengacaukan kejutan besar ini. Angin sebenarnya mau memberikan kejutan besar ini sebagai hadiah ulang tahun. Tapi sudah keburu ketahuan. Tak apa. Asalkan mimpi saya bisa terwujud, semuanya tidak menjadi masalah.

***

Sudah sebulan sejak rahasia besar itu terbongkar. Dan saya belum juga mendapatkan jawaban yang memuaskan dari si penerbit. Angin juga terlihat kurang serius dalam menanyakan tentang honor saya. Mana hasil royalti yang janjinya bakalan saya terima? Katanya memang harus menunggu sampai terjual sejumlah kopi yang sudah disepakati dalam kontrak dulu baru royalti bisa dibagi. Tapi bukankah Angin pernah bilang sudah terjual seribu, dan bahkan hitung-hitungannya pun waktu itu sudah diberikan? Tanpa sepengetahuan Angin saya sering mendatangi toko buku dekat rumah itu untuk melihat perkembangan novel saya. Banyak sekali orang yang membeli novel saya. Dan malah kadang terlihat habis di rak nya. Masak belum cukup buku saya yang terjual? Ah, saya harus percayakan saja pada Angin. Saya betul-betul tidak tahu bagaimana mekanisme pembagian dan pemberian royalti itu. Saya tidak mengerti. Angin yang sudah dijelaskan oleh penerbit itu, dan dia pasti tahu apa yang harus dilakukan. Ya, saya seharusnya percaya saja pada Angin.

***

Hari ini hilang sudah kepercayaan saya pada Angin. Dia sudah menerbangkan rasa percaya yang saya pikir sudah tertanam, berakar erat dalam diri saya. Dia terbangkan rasa ragu sebagai gantinya kemari. Siapa Bunga? Dan kenapa di dalam formulir transfer yang kutemukan di kantong celana Angin tertulis nama Bunga? Jumlah uangnya pun tidak sedikit. Enam juta rupiah! Angka itu…?? Rasanya… ah, mungkinkah? Sebuah perusahaan penerbitan tidak mungkin menggunakan nama pribadi, bukan? Pikiran saya pun berkelibat, melonjak, berebut keluar jalur untuk mengemukakan berjuta alasan dan jawaban. Tapi saya hanya mampu terduduk diam dalam lamunan. Tekad saya pun bulat. Angin, saya harus mencari tahu.

Fortune Cookies

December 19, 2010 § Leave a comment


by Nuzula Fildzah @zulazula

“Aku ingin hadiah darimu,” ucapku manja, di ulang tahun ke dua puluh lima. Ia menatapku, lalu mengecup keningku. Kue yang berbentuk sabit, diberikannya untukku. Tak ingin kalah, aku segera meminta pelayan mengambil kue serupa untuk dirinya. Dan bersama-sama membelahnya. Dia terdiam.

“Fortune Cookies” ujarku. Tak ada ramalan di dalamnya. Hanya Cincin bermata Ruby, bersinar.

“ Simpan baik-baik, ia saksi hari ini. Kamu wanitaku satu.”

***

Hari ini, 1 Januari. Bulan di mana kita akan sematkan janji, sehidup semati. Tapi hanya ada aku dan cincin bermata ruby melingkar di jari, melingkar di jiwa berduka hari ini.

Heaven is the last port in the early month,” seuntai kata pada Fortune Cookies terakhirnya desember lalu.

 

Terlambat

December 19, 2010 § Leave a comment


by Damay Iriani @nongdamay

“Nanti temenin aku bimbingan. Soalnya, ketemu dosennya malam” ucapku, tapi ternyata Agit harus lembur. Malam minggunya, aku pikir pasti waktu Agit buatku, tapi, “maaf  Dila, minggu ini kita ngga malam mingguan soalnya aku lagi siapin bahan presentasi”

Aku memang kecewa, tapi Agit selalu bilang, “aku kan kerja demi masa depan kita”. Itu kata sakti dia setiap aku marah dan aku akan luluh.

Malam ini kami bertengkar di telepon, karena sabtu depan Agit harus lembur dan tidak bisa hadir kepernikahan sahabatku, “Dila, aku kan begini buat kamu, aku hendak melamar dan membawakanmu cincin”

“Semoga saat cincin itu datang, kamu belum terlambat” gumamku setelah menutup telepon. (Lalu kupandang kotak cincin di meja rias)

 

Kopi Perpisahan

December 19, 2010 § Leave a comment


by Damay Iriani @nongdamay

“Aah, masih belum sama rasanya kopi buatan mbak tien,” gumamku saat kuminum kopi yang coba aku buat.  Hampir setahun kucoba membuat kopi sendiri tapi tetap beda.

***

Mbak tien adalah asisten rumah tangga kami sejak aku kecil, yang mengurus aku saat mama kerja. Sejak masuk kuliah aku sering begadang dan mbak tien suka menemani dan membuatkanku kopi. Kopinya beda banget.

“Dek, mbak pulang kampung tapi ngga balik lagi soalnya bapak sakit-sakitan.”

Aku sangat kehilangan dia, bukan hanya kopinya tapi sosoknya yang hampir 20 tahun menemaniku. Malam ini aku dan mbak tien lewatkan bercerita dan kopi buatannya bukan hanya secangkir melainkan seteko karena teman-temanku yang tahu enaknya, mau merasakan juga kopi perpisahan ini.

 

Tiga Tahun Kemudian

December 19, 2010 § Leave a comment


by Emiralda Noviarti @emiralda

Suatu hari.

Sebuah cincin. Ukirannya demikian indah, maka kuputuskan memakainya. Entah mengapa, ukurannya teramat kecil, cincin itu hanya termuat di kelingkingku.

Tanpa sengaja, aku bertemu seorang sahabat. Kamu, seperti biasa, menyadari sesuatu.

“Tumben pakai cincin.”
“Iya, iseng. Dioleh-olehin teman.”

***

Tiga bulan berlalu.
Hari aneh. Printer rusak. Tugas kuliah tertinggal. Lupa jadwal praktikum.

Kesialan terakhir hari itu adalah ketika kusadari bahwa cincinku terlepas dan hilang. Sepanjang perjalanan pulang, aku bersungut kesal.

Di gerbang kampus, berpapasan denganmu.

Spontan semua cerita terlontar. Yang terakhir, “cincinku hilang.”

Kamu tersenyum, menyahut cepat, “Tiga tahun lagi, kuganti, ya. Tapi pakainya di jari manis.”

***

Tiga tahun kemudian. Kamu menepati janji. Namun bukan jari manisku. Aku menyaksikan pernikahanmu, sahabatku.